6 perkara yang Gusti Allah sem Juni 14, 2008
Posted by somadianart in Uncategorized.add a comment
Allah SWT selesai menciptakan Jibrail as dengan bentuk yang cantik, dan Allah menciptakan pula baginya 600 sayap yang panjang , sayap itu antara timur dan barat (ada pendapat lain menyatakan 124, 000 sayap). Setelah itu Jibrail as memandang dirinya sendiri dan berkata:
“Wahai Tuhanku, adakah engkau menciptakan makhluk yang lebih baik daripada aku?.”
Lalu Allah swt berfirman yang bermaksud.. “Tidak”
Kemudian Jibrail as berdiri serta solat dua rakaat kerana syukur kepada Allah swt. dan tiap-tiap rakaat itu lamanya 20,000 tahun. Setelah selesai Jibrail as solat, maka Allah SWT berfirman yang bermaksud “Wahai Jibrail, kamu telah menyembah aku dengan ibadah yang bersungguh-sungguh, dan tidak ada seorang pun yang menyembah kepadaku seperti ibadat kamu, akan tetapi di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia yang paling aku cintai, namanya Muhammad.” Dia mempunyai umat yang lemah dan sentiasa berdosa, sekiranya mereka itu mengerjakan solat dua rakaat yang hanya sebentar sahaja, dan mereka dalam keadaan lupa serta serba kurang, fikiran mereka melayang bermacam-macam dan dosa mereka pun besar juga. Maka demi kemuliaannKu dan ketinggianKu, sesungguhnya solat mereka itu aku lebih sukai dari solatmu itu. Kerana mereka mengerjakan solat atas perintahKu, sedangkan kamu mengerjakan solat bukan atas perintahKu.”
Kemudian Jibrail as berkata: “Ya Tuhanku, apakah yang Engkau hadiahkan kepada mereka sebagai imbalan ibadat mereka?” Lalu Allah berfirman yang bermak! sud. “Ya Jibrail, akan Aku berikan syurga Ma”waa sebagai tempat tinggal…” Kemudian Jibrail as meminta izin kepada Allah untuk melihat syura Ma”waa.
Setelah Jibrail as mendapat izin dari Allah SWT maka pergilah Jibrail as dengan mengembangkan sayapnya dan terbang, setiap dia mengembangkan dua sayapnya dia boleh menempuh jarak perjalanan 3000 tahun, terbanglah malaikat jibrail as selama 300 tahun sehingga ia merasa letih dan lemah dan akhirnya dia turun singgah berteduh di bawah bayangan sebuah pohon dan dia sujud kepada Allah SWT lalu ia berkata dalam sujud: “Ya Tuhanku apakah sudah aku menempuh jarak perjalanan setengahnya, atau sepertiganya, atau seperempatnya?
Kemudian Allah swt berfirman yang bermaksud. “Wahai Jibrail, kalau kamu dapat terbang selama 3000 tahun dan meskipun aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti yang telah kamu lakukan, nescaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa perpuluhan yang telah kuberikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan solat dua rakaat yang mereka kerjakan…..”
Marilah sama2 kita fikirkan dan berusaha lakukan… Sesungguhnya Allah S.W.T telah menyembunyikan enam perkara iaitu :
* Allah S.W.T telah menyembunyikan redha-Nya dalam taat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan murka-Nya di dalam maksiat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan nama-Nya yang Maha Agung di dalam Al-Quran.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan Lailatul Qadar di dalam bulan Ramadhan.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan solat yang paling utama di dalam solat (yang lima waktu).
* Allah S.W.T telah menyembunyikan (tarikh terjadinya) hari kiamat di dalam semua hari.
Semoga kita mendapat berkat daripada ilmu ini. Wallahualam
Kalau rajin… Tolong sebarkan cerita ini kepada saudara
Muslim Muslimat yang lain agar menjadi renungan dan pelajaran kepada kita semua. Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah meninggal dunia…
sumber : http://id.shvoong.com/humanities/1660257-perkara-allah-sembunyikan/
punakawan Mei 24, 2008
Posted by somadianart in Uncategorized.Tags: umum
add a comment
Semar, nama tokoh ini berasal dari bahasa Arab Ismar. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh(paku)terhadap segala kebenaran yang ada atau sebagai penasihat dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Semar dengan demikina juga adalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.
Nala Gareng, juga diadaptasi dari kata Arab Nala Qariin, yang artinya memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan dakwah para aulia sebagai juru dakwahuntuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) agar kembalikejalan Allah dengan sikap arif dan harapan yang baik.
Petruk, diadaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan(petuah) tasawuf yang berbunyi “fatruk kulla maa siwalaahi” yang artinya tinggalkan semua apaun selain Allah. Wejangan tersebut yang kemudian menjadi watak para aulia dan mubaligh pada waktu itu. Petruk juga disebut Kantong Bolong yang artinya kantong yang berlubang. Maknanya, bahwa manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah secara ikhlas, sepertinya berlubangnya kantong yang tanpa penghalang.
Bagong, berasal dari kata Baghaa yangberarti berontak. Yaitu berontak terhadap kebathilandan keangkaramurkaan. si”Bayangan semar” ini karakternya lancang dan suka berlagak bodoh.
Secara umum, tokoh punakawan ini melambangkan orang kebanyakan dengan belbagai karakter seperti penghibur, kritik sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebajikan. Para tokoh Punakawan ini juga berfingsi sebagai pamomong(pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya.
Karakter Punakawan (selain dari tokoh lainnya) dari jalur acuan Walisongo, sebenarnya muncul berdasarkan penuturan Puntadewa/ Dharmakusuma (satu-satunya dari Pandawa yang akhirnya memeluk Islam) dan Semar/ Ismaya kepada sunan Kalijaga dalam komunikasi ghoib (yang tidak terbatasi ruang dan waktu) sesama aulia.
mulianya langit Arafah di saat wukuf Mei 20, 2008
Posted by somadianart in Uncategorized.Tags: religi
add a comment
Wukuf adalah puncaknya haji. Secara fisik, wukuf Arafah adalah puncak berkumpulnya seluruh jamaah, yang berjumlah jutaan, dari penjuru dunia dalam waktu bersamaan. Secara amaliah, wukuf Arafah mencerminkan puncak penyempurnaan haji kita. Di Arafah inilah Rasulullah menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan nama khutbah wada’ atau khutbah perpisahan, karena tak lama setelah menyampaikan khutbah itu beliaupun wafat. Di saat itu, ayat Al-Qur’an, surat al-Maa’idah ayat 3 turun sebagai pernyataan telah sempurna dan lengkapnya ajaran Islam yang disampaikan Allah SWT melalui Muhammad saw. Firman Allah SWT : “..Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu….” (al-Maa’idah:3)
Arafah merupakan gambaran padang Mahsyar, yang nantinya semua makhluk dikumpulkan disana sebelum melangkah ke surga atau neraka. Kehadiran kita di Arafah memberi arti dan nuansa akhirat dengan Mahsyarnya, sekaligus merenunginya untuk bersiap-siap menghadapi hal itu.
Arafah juga merupakan tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah beratus tahun saling mencari di muka bumi.
Wukuf artinya hadir dan berada di Arafah pada waktu tertentu antara waktu dzuhur dan ashar.
Disini masing-masing jamaah dipersilahkan untuk mengkondisikan dirinya berkonsentrasi kepada Allah, melakukan perenungan atas dirinya, apa yang telah dilakukan selama hidupnya, merenungi kebesaran Allah melalui Asmaul Husna-Nya, merenungi hari akhirat.
Bentangkan dosa-dosamu di padang Arafah ini, ingatlah satu persatu dosa-dosa yang pernah engkau lakukan, ingatlah betapa waktumu selama ini habis terbuang sia-sia karena lebih banyak digunakan untuk memperindah kehidupan duniamu. Pengakuan yang jujur dan ikhlas, tanpa rasa sombong dan takabur, di hadapan Allah adalah puncak amaliah haji. Itulah Arafah, wukuf kita adalah untuk mendefinisikan hakikat keberadaan kita dihadapan Allah, sekalipun sebenarnya Allah telah mengetahui itu semua.
Pandanglah langit Arafah. Renungilah bahwa pada hari yang mulia itu Allah SWT sedang memanggil para malaikatnya berkumpul di langit Arafah, dan membangga-banggakan umatnya yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikatnya di langit.
Disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman bahwa :
“ Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihatku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”
Allah sangat memuliakan hari wukuf di Arafah. Hari itu, Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada orang-orang yang wukuf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka. Nabi Muhammad saw bersabda :
“ . . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ? “
Pada hari itu, Allah senang sekali jika kita berdoa kepada-Nya. Ia mengabulkan semua doa mereka disana, sebagaimana tersebut dalam hadist yang lain :
Sabda Rasullullah saw : “Diantara berbagai jenis dosa, ada dosa yang tidak akan tertebus kecuali dengan melakukan wukuf di Arafah” (disinadkan oleh Ja’far bin Muhammad sampai kepada Rasulullah saw).
Bahkan Allah murka ketika manusia tidak yakin dosanya diampunkan di Arafah, seperti sabda Rasullullah saw : “Yang paling besar dosanya diantara manusia adalah seseorang yang berwukuf di Arafah lalu berprasangka bahwa Allah tidak memberinya ampun” (Al Khatib dalam kitab Al-Muttafaq wal Muftaraq)
Demikian agung dan mulianya hari Arafah ini, meski wukuf hanya beberapa jam saja. Sungguh sangat penting berdoa di Arafah, disaksikan dari dekat oleh Allah SWT dan dibangga-banggakan-Nya kita di depan para malaikatnya.
“Hai malaikat-Ku ! Apa balasan (bagi) hamba-Ku ini, ia bertasbih kepada-Ku, ia bertahlil kepada-Ku, ia bertakbir kepada-Ku, ia mengagungkan-Ku, ia mengenali-Ku, ia memuji-Ku, ia bershalawat kepada nabi-Ku. Wahai para malaikat-Ku ! Saksikanlah, bahwasanya Aku telah mengampuninya, Aku memberi syafaat (bantuan) kepadanya. Jika hambaku memintanya tentu akan Kuberikan untuk semua yang wukuf di Arafah ini.”
(Sumber : Rahasia Haji, Imam al-Ghozali, dengan beberapa edit oleh Penjaga Kebun)
mengenal diri Mei 16, 2008
Posted by somadianart in Uncategorized.add a comment
Sebuah Kata Pengantar dari Abu Sangkan
Sebuah obsesi yang telah lama saya idam-idamkan, adalah untuk mengungkapkan rahasia spiritual menjadi sesuatu yang sangat gamblang dan mudah untuk dipahami. Saya pernah mengatakan bahwa perjalanan spiritual itu seperti orang menuju tidur. Kalau orang mau tidur membawa ilmunya, maka ia akan menjadi insomnia. Kalau tidur dipikirkan, maka ia menjadi intelektual (pemikir). Kalau tidur masih membaca buku, maka ia terjebak ke dalam persepsinya. Kalau tidur ia masih harus menghafalkan perjalanan tentang tidur, maka tidurnya menjadi tersasar kepada khayalan (schizophrenia). Kalau tidur dibahas dan didiskusikan, maka ia akan menjadi tukang debat. Kalau tidurnya masih bertanya bagaiman cara tidur, maka ia tidak akan menemukan tidur itu. “Allahu yatawaffal anfus hiina mautiha, wallati lam tamut fii manamiha…, Allah menggenggam roh ketika mati, dan ketika tidurmu.. “ Azzumar : 42).
Seorang ahli ilmu ketika menjelang ajalnya ditanya oleh Muridnya. Ia tidak ingin ketinggalan pengajaran dari Gurunya yang dianggap ahli di bidang agama. Ia ingin mendengar wasiat terakhir yang perlu dimilikinya sebagai pusaka, pegangan akhir hayatnya. Puncak dari semua harapan para Nabi dan para Wali. Akhir yang mennetukan diterima atau tidaknya seorang manusia dihadapan Tuhannya. Cita-cita agung yang disebut husnul khatimah. Akhir yang baik…!
“Guru..! dalam kondisi seperti ini (menjelang ajal) apakah Guru sudah mengenal Rupa atau Wujud Sang Pencipta?. Sang Guru dengan mahirnya mengungkapkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai landasan jawaban atas pertanyaan Muridnya. “Bahwa Allah sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher. Bahwa ilmunya meliputi segala sesuatu”. “Singkat saja Guru.., karena waktu Sangat pendek, apakah Guru sudah mengenal Wajah-Nya?” Desak Murid sableng ini. “Dia tidak sama dengan mahluk-Nya..!”, kata Sang Guru itu lagi. “Bukan Guru.., lebih singkat lagi Guru..!”, Sang Murid mendesak kembali. “Aku tidak tahu…”, kata Sang Guru setengah mengeluh. “Hahh…??? Mau bilang tidak tahu saja kok muter-muter dalil”, dalam hati Sang Murid berbisik.
“Guru, apakah Guru pernah melihat syurga dan neraka..?”. Tanya Sang Murid lagi. “Sesunggunya syurga itu tidak bisa dibayangkan oleh pikiran, tidak pernah di dengar oleh telinga, dan tidak pernah dirasa oleh hati manusia..”, jawab Sang Guru dengan dalil yang mantap. “Jadi kesimpulannya apoa Guru..?” desak Muridnya penasaran. “Aku tidak pernah tahu…”, jawab Sang Guru lirih.
“Satu lagi Guru, dari sekian banyak amalan Guru seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan mengajar kami, apakah Guru sudah tahu bahwa amalan Guru itu diterma oleh Allah SWT…?”, Tanya Sang Murid bertubi-tubi. Sang Guru hanya menggeleng dan berucap datar, “Aku tidak tahu..”.
“Guru, mohon petunjukmu yang terakhir apakah yang harus saya lakukan di saat menjelang ajal ini..? Tanya Sang Murid seperti berputus asa. “Aku tidak tahu….., aku hanya menunggu. Ya.., menunggu. Perjalanan kematian tidak perlu dipelajari, kecuali hanya berserah diri”.
“Allah-ku berkata: “Wahai jiwa yang tenang , irji’ii ila robbiki raadhiyatan mardhiyyah.., datanglah kepada tuhanny dengan cara merelakan rohanimu dan ridho, bukan dengan ilmumu dan amalmu. Dengan keadaan benar-benar tidak tahu, serba tidak tahu. Diamlah..!!!”. Karena Dia-lah yang akan membawa rohmu terbang menuju kehadirat-Nya. Araftu robbi bi robbi (aku dikenalkan Allah oleh Allah sendiri), bukan dengan ilmuku dan persepsiku.
“Kata allah-ku lagi: “Wasbhir wama shabruka illa billah…, sabarlah kalian, tetapi kalian tidak akan bisa sabar keculai dengan kekuatan Ku…, (An Nahl: 127)”, “Bersihkan hati kalian..! Namun kalaulah tiddak ada kekuatan dan rahmat-Ku, kalian semua tidak akan pernah bersih hati selama-lamanya. Akan tetapi Aku-lah yang akan membersihkan hati kalian… (An Nuur: 21)”.
Perjalanan rohani adalah keinginan kita, namun tindakan selanjutnya keinginan Allah sendiri yang menguasai. “Barang siapa bersungguh-sungguh dating menuju Kami, pastilah Kami akan menunjuki mereka jalan-jalan Kami..,(Al Ankabut: 69) “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (Al Insyiqaaq: 6)
Saya pernah bertutur kepada saudara Yusdeka Putra ini dalam kajian malam jum’atan, bahwa Jalaludin Rumi berputar-putar mencari posisi rohani agar menemukan sang ahad. Lalu Al-Junaid mencari kesejatian dirinya sehingga ia menemukan Allah dalam dirinya sendiri. Mohammad Iqbal terkenal dengan penyatuannya dengan butir-butir materi (atom) sehingga ia mengatakan akulah semesta ini.
Dan sang iblis yang merupakan mantan penghuni syurga, sampai sekarang duduk dihadapan Allah menyatakan Allah-ku Esa (Ahad), Sang Perkasa dan Kuasa atas segala sesuatu. Iblis berkata: “fa bi ‘izzatika laughwiyannahum ajma’iin illa ibadakal mukhlashin…, Wahai Rabb-ku, aku mohon daya untuk mengganggu seluruh manusia kecuali hamba-Mu yang Engkau beri daya keikhlasan” (Shaad: 82-83).
Lalu…, dimanakah letak perbedaan iblis tersebut dengan para pendaki pucak kema’rifatan seperti kalian..? Kita satu Tuhan dengan para iblis, satu kesepakatan bahwa Allah esa ada-Nya, satu kesepatakan bahwa Allah dekat ada-Nya. Bahwa Dia Maha segala-gala-Nya. Bedanya hanyalah saat iblis berkata ketika ditanya oleh Allah: “Mengapa kamu tidak menghormati adam..?” “jawabnya “Ana khairun minhu, akulah yang lebih tinggi dari Adam”.
Ketinggi spiritual bukan berarti selesainya tanjakan yang sudah kamu lalui, akan tetapi dia bermakna tetang bagaimana posisi kejiwaanmu sendiri. Kalau masih ada perpecahan di dunia spiritual, maka tidak ada bedanya dengan ahli fiqh yang pada akhirnya akan menciptakan mazhab-mazhab spiritual. Kalau memang mereka bersatu dengan alam atau menjadi alam itu sendiri (kesadaran makro-kosmos), maka tubuhnya adalah tubuh kita, jiwanya adalah jiwa kita. Kita sering mengatakan bahwa pada orang-orang syariat sering terjadi kericuhan dan perseteruan, akan tetapi diantara para spiritualis sendiri, tanpa disadarinya juga telah banyak kita temui suasana saling merasa sudah paling dekat dan ma’rifat kepada Allah, lalu meremehkan orang lain.
Dengan perjalanan saudara Yusdeka Putra ini, yang dimilis Dzikrullah lebih dikenal dengan nama Deka, kita dibawa melalui sebuah kajian mendalam untuk mencapai posisi spiritual yang sangat berbeda dengan kaum yang membuat mazhab spiritual. Karena spiritual itu sendiri sesungguhnya bersifat unibersal. Begitu ktia keluar dari keuniversalan, maka seketika itu juga kita akan keluar dari tatanan ruang spiritual. Ketika kita sakit hati, maka kita sudah tidak universal lagi. Spiritual adalah seorang pendamai, bekerja dengan hatinya, tersenyum dengan hatinya, menghormati orang yang telah membuatnya lebih baik, menghargai kaum syariat yang baru belajar agama. Memandang orang sebagai sabahat.
Bahkan seorang spirtualis sejati akan mampu menjadikan kaum yang memusuhinya dan sakit hati kepadanya sebagai “partnernya” di dalam mengetahui kedudukan rohaninya. Rasulullah suci hatinya karena karena didampingi oleh Abu Jahal yang selalu membenci Beliau. Nabi Musa disebut baik karena didampingi oleh Fir’aun yang penuh dengan angkara murka. Nabi Nuh disebut sabar karena didampingi oleh anaknya yang durhaka. Nabi Isa disebut suci (ruhul qudus) karena didampingi oleh muridnya yang menghianatinya. Nabi Yusuf disebut mukhlas (iklas) karena didampingi oleh Siti Zulaikha yang selalu menggodanya untuk berbuat tidak baik. Itulah yang disebut Furqanan, pembeda…!, agar kalian tahu siapa dirimu sebenarnya.